Menentukan AWS vs GCP vs Azure mana yang cocok jarang ditentukan fitur, karena ketiganya menyediakan hampir semua hal yang sama. Yang menentukan biasanya empat hal: harga untuk pola beban Anda, lokasi region, ekosistem yang sudah dipakai, dan siapa yang bisa merawatnya.

Perbandingan fitur antar tiga penyedia ini hampir selalu berakhir seri. Semuanya punya mesin virtual, basis data terkelola, penyimpanan objek, Kubernetes terkelola, dan ratusan layanan lain yang mungkin tidak akan Anda pakai.

Karena itu memilih berdasarkan daftar fitur adalah cara paling tidak berguna. Yang membedakan justru hal-hal yang tidak ada di halaman produk.

Region Indonesia dan kenapa lokasi paling menentukan

Untuk aplikasi yang penggunanya di Indonesia, keberadaan region Indonesia cloud adalah pertimbangan yang paling konkret. Ketiga penyedia besar sudah punya region di Jakarta, jadi soal ini tidak lagi menjadi pembeda seperti beberapa tahun lalu.

Yang masih berbeda adalah kelengkapan layanan di masing-masing region. Tidak semua layanan tersedia di semua region, dan layanan yang baru diluncurkan biasanya butuh waktu sebelum sampai ke Jakarta. Ini perlu diperiksa untuk layanan spesifik yang akan Anda pakai — bukan diasumsikan.

Latensi ke pengguna Indonesia dari region Jakarta berada di kisaran puluhan milidetik; dari Singapura sedikit lebih tinggi tapi masih wajar untuk sebagian besar aplikasi. Untuk aplikasi yang sensitif latensi, selisihnya berarti; untuk aplikasi bisnis biasa, tidak akan terasa.

Aspek yang biasanya menentukan pilihan. Harga tidak dicantumkan karena bergantung pola beban dan berubah terus.
AspekAWSGoogle CloudAzure
Region JakartaAdaAdaAda
Kelengkapan layananPaling luasLuasLuas
Kekuatan khasKematangan & ekosistemData, analitik, KubernetesIntegrasi Microsoft
Ketersediaan tenaga ahli di IndonesiaPaling banyakSedangSedang
Kemudahan bagi pemulaSedangLebih mudahSedang
Diskon komitmenSavings PlanCommitted useReserved Instance
Kredit untuk startupAdaAdaAda
DokumentasiSangat lengkap, kadang membingungkanRingkasBervariasi

Harga cloud provider dan kenapa dibandingkan sering keliru

Membandingkan harga cloud provider dari tabel tarif hampir selalu menyesatkan, karena satuannya dan diskonnya berbeda. Yang berarti hanya perhitungan berdasarkan pola beban Anda sendiri: berapa jam mesin menyala, berapa gigabita data keluar, berapa besar penyimpanan tumbuh.

Komponen yang paling sering membuat perkiraan salah adalah transfer data keluar. Ketiganya menagihnya, tarifnya cukup besar, dan untuk aplikasi yang banyak menyajikan berkas atau gambar komponen ini bisa melampaui biaya komputasinya.

Komponen kedua yang sering luput: diskon komitmen. Ketiganya menawarkan potongan besar untuk komitmen satu sampai tiga tahun. Membandingkan tarif sesuai permintaan padahal beban Anda stabil sepanjang tahun berarti membandingkan angka yang tidak akan Anda bayar.

Kredit startup cloud: menarik, tapi hati-hati

Program kredit startup cloud dari ketiga penyedia bisa bernilai besar, dan untuk perusahaan tahap awal itu godaan yang wajar. Kredit memang mengubah perhitungan biaya secara drastis — selama masa berlakunya.

Yang perlu diantisipasi adalah apa yang terjadi setelah kredit habis. Arsitektur yang dibangun ketika biaya terasa nol cenderung tidak efisien, dan tagihan pertama setelah kredit berakhir sering menjadi kejutan yang tidak menyenangkan.

Saran praktis: pakai kreditnya, tetapi pantau biaya sebenarnya sejak hari pertama seolah Anda membayarnya. Dengan begitu Anda tahu posisi biaya nyata jauh sebelum kredit habis, dan punya waktu menyesuaikan.

Ketersediaan tenaga ahli cloud sebagai faktor yang diremehkan

Soal ketersediaan tenaga ahli cloud di Indonesia, AWS punya keunggulan yang jelas — komunitasnya paling besar dan orang yang pernah bekerja dengannya paling banyak. Untuk perusahaan yang akan merekrut, itu berarti kolam kandidat yang lebih luas dan waktu perekrutan yang lebih pendek.

Ini terdengar bukan pertimbangan teknis, tetapi dampaknya paling terasa dalam jangka panjang. Platform yang secara teknis sedikit lebih unggul tetapi tidak ada yang bisa merawatnya adalah kerugian bersih.

Hal yang sama berlaku untuk pengelola pihak ketiga. Sebelum memutuskan, pastikan pihak yang akan menangani lingkungan Anda memang bekerja sehari-hari dengan penyedia yang Anda pilih — bukan sekadar mencantumkan logonya.

Multi cloud atau satu penyedia

Pertanyaan multi cloud atau satu penyedia sering dijawab dengan alasan yang tidak bertahan diperiksa: menghindari keterikatan vendor. Kenyataannya, menjalankan beban kerja di dua penyedia berarti dua cara kerja, dua set kredensial, dua tempat yang harus dipantau, dan tim yang harus menguasai keduanya.

Untuk sebagian besar perusahaan menengah, itu biaya yang jauh melebihi manfaatnya. Satu penyedia dengan arsitektur yang tidak terlalu bergantung pada layanan khasnya sudah memberi sebagian besar keleluasaan yang dicari.

Multi cloud masuk akal pada beberapa kondisi spesifik: ada ketentuan yang mewajibkannya, ada layanan khas yang hanya ada di satu penyedia dan memang dibutuhkan, atau cadangan disimpan di penyedia berbeda dari sistem utamanya. Yang terakhir ini justru pola yang kami sarankan — dan ia tidak menuntut menjalankan beban kerja di dua tempat.

Cara memutuskan tanpa berlarut-larut

Kalau keputusannya berlarut, urutan ini biasanya menyelesaikannya. Pertama, apakah organisasi Anda sudah memakai Microsoft 365 dan Active Directory secara mendalam? Kalau ya, Azure menghemat banyak pekerjaan integrasi identitas.

Kedua, apakah inti produk Anda adalah data dan analitik? Kalau ya, Google Cloud punya keunggulan yang nyata di wilayah itu, terutama BigQuery.

Kalau keduanya tidak, AWS adalah pilihan bawaan yang aman: paling lengkap, paling banyak dokumentasi dan contoh, dan paling mudah mencari orang. Bukan pilihan paling menarik, tapi paling sedikit menghasilkan penyesalan.

Yang sebaiknya dikerjakan di hari pertama

Apa pun penyedia yang dipilih, beberapa hal ini menghemat banyak masalah kemudian — dan semuanya lebih mudah dikerjakan sebelum ada beban kerja di dalamnya.

  • Aktifkan autentikasi dua faktor pada akun utama, lalu jangan pakai akun itu untuk pekerjaan sehari-hari.
  • Buat pengguna atau peran terpisah dengan hak seminimal mungkin untuk tiap keperluan.
  • Nyalakan pencatatan aktivitas akun sejak awal, karena ia tidak bisa merekam masa lalu.
  • Tetapkan aturan penamaan dan tag sebelum sumber daya pertama dibuat.
  • Pasang anggaran beserta peringatan biaya, bahkan bila masih memakai kredit.
  • Tentukan satu region utama dan tuliskan alasannya, supaya tidak ada sumber daya yang tersebar tanpa sengaja.

Bacaan & layanan terkait

FAQ

Pertanyaan seputar AWS vs GCP vs Azure

Bisakah pindah penyedia kalau ternyata salah pilih?

Bisa, dan biayanya bergantung seberapa banyak Anda memakai layanan khas penyedia itu. Mesin virtual dan container relatif mudah dipindahkan; basis data terkelola dan layanan tanpa server jauh lebih menuntut.

Bagaimana dengan penyedia cloud lokal Indonesia?

Untuk kebutuhan mesin virtual dan penyimpanan biasa, penyedia lokal sering lebih murah dan penagihannya dalam rupiah. Yang kurang adalah kelengkapan layanan terkelola dan kematangan otomatisasinya — jadi cocok untuk beban yang sederhana.

Perlu sertifikasi penyedia sebelum memakainya?

Tidak untuk memakai, tetapi berguna untuk tim yang akan mengelolanya karena mengurangi kesalahan awal yang mahal. Yang lebih menentukan tetap pengalaman menangani lingkungan nyata.

Apakah layanan tanpa server lebih hemat?

Untuk beban yang jarang dan tidak terduga, sering lebih hemat karena tidak ada yang menyala saat tidak dipakai. Untuk beban yang berjalan terus-menerus, mesin virtual dengan komitmen biasanya lebih murah.

Apakah memakai beberapa penyedia mempersulit kepatuhan?

Umumnya ya, karena setiap penyedia punya sertifikasi, kontrak, dan cara pelaporan yang berbeda. Untuk organisasi yang harus membuktikan kepatuhan, satu penyedia jauh lebih mudah didokumentasikan.

Perlu pendapat kedua sebelum memutuskan?

Kami sering dimintai pertimbangan oleh perusahaan yang akhirnya memilih mengerjakan sendiri. Itu tidak masalah — yang penting keputusannya berdasar angka.

WhatsApp